Bagaimana menghadapi anak yang kritis, berikut ini penulis share tentang bagaimana menghadapi anak yang kritis
1.Berikan jawaban sesuai taraf berpikir anak.
Memberikan jawaban atas pertanyaan anak akan membuat rasa ingin tahu anak dapat tumbuh subur dalam diri anak. Namun demikian, jawaban yang diberikan orang tua perlu mempertimbangkan usia dan taraf berpikir anak.
2.Bersikap jujur dan lugas.
Jika orang tua memang tidak mengetahui jawaban atas pertanyaan anak. Ada baiknya bersikap jujur saja kepada anak. Ini bertujuan untuk menghindari pemahaman yang keliru terhadap pengetahuan anak. Selain itu juga menanamkan sifat jujur dan tidak sok tau.
3.Jangan perlihatkan kewalahan.
Mungkin tidak selalu orang tua dapat menjawab dan menjelaskan pertanyaan anak. Namun usahakan untuk tidak memperlihatkan kalau orang tua kewalahan atau merasa bosan terhadap anak yang banyak tanya.
4.Tidak menganggap sepele pertanyaan anak.
Menganggap sepele pertanyaan yang diajukan dapat merendahkan kepercayaan diri anak. Mungkin suatu saat anak tidak mau bertanya lagi pada orang tua. Anak merasa, jangan-jangan pertanyaannya tidak bagus atau tidak bermanfaat.
Sebaliknya, orang tua perlu menganggap penting semua pertanyaan anak. Hal ini ditunjukkan dengan memberikan layanan jawaban yang memuaskan anak. Ini akan menumbuhsuburkan pikiran kritis dan rasa percaya diri anak.
5.Sediakan waktu berdiskusi dengan anak.
Kadang-kadang anak bertanya saat orang tua sibuk mengerjakan sesuatu di rumah. Jarang melihat orang tuanya memiliki waktu senggang. Makanya, selagi ada kesempatan anak akan langsung bertanya tanpa melihat kondisi orang tuanya. Oleh sebab itu, orang tua perlu menyediakan waktu khusus untuk berdiskusi dengan anak
Memberikan jawaban atas pertanyaan anak akan membuat rasa ingin tahu anak dapat tumbuh subur dalam diri anak. Namun demikian, jawaban yang diberikan orang tua perlu mempertimbangkan usia dan taraf berpikir anak.
2.Bersikap jujur dan lugas.
Jika orang tua memang tidak mengetahui jawaban atas pertanyaan anak. Ada baiknya bersikap jujur saja kepada anak. Ini bertujuan untuk menghindari pemahaman yang keliru terhadap pengetahuan anak. Selain itu juga menanamkan sifat jujur dan tidak sok tau.
3.Jangan perlihatkan kewalahan.
Mungkin tidak selalu orang tua dapat menjawab dan menjelaskan pertanyaan anak. Namun usahakan untuk tidak memperlihatkan kalau orang tua kewalahan atau merasa bosan terhadap anak yang banyak tanya.
4.Tidak menganggap sepele pertanyaan anak.
Menganggap sepele pertanyaan yang diajukan dapat merendahkan kepercayaan diri anak. Mungkin suatu saat anak tidak mau bertanya lagi pada orang tua. Anak merasa, jangan-jangan pertanyaannya tidak bagus atau tidak bermanfaat.
Sebaliknya, orang tua perlu menganggap penting semua pertanyaan anak. Hal ini ditunjukkan dengan memberikan layanan jawaban yang memuaskan anak. Ini akan menumbuhsuburkan pikiran kritis dan rasa percaya diri anak.
5.Sediakan waktu berdiskusi dengan anak.
Kadang-kadang anak bertanya saat orang tua sibuk mengerjakan sesuatu di rumah. Jarang melihat orang tuanya memiliki waktu senggang. Makanya, selagi ada kesempatan anak akan langsung bertanya tanpa melihat kondisi orang tuanya. Oleh sebab itu, orang tua perlu menyediakan waktu khusus untuk berdiskusi dengan anak
